April 14, 2024
Jalan Yos Sudarso No. 18 - 22 Surabaya
Blusukan

Pecah! Pertunjukan Ludruk Berhasil Kocok Perut Masyarakat Surabaya

Sorak sorai penonton tak hentinya terdengar dari Gedung Balai Budaya, sepanjang penampilan Ludruk Putra Hira berlangsung pada Minggu (5/3/2023). Pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Hiburan kesenian yang disediakan gratis oleh Pemerintah Kota ini, nyatanya disambut baik oleh masyarakat Surabaya. 

Ratusan penonton dari beragam usia nampak memenuhi Gedung Balai Budaya. Mulai dari anak-anak muda, dewasa, hingga lansia hadir memeriahkan suasana. Tak sedikit pula yang datang bersama keluarga. Gelak tawa penonton semakin pecah ketika pukul 20.00 WIB, mulai hadir pemain berkostum pocong, yang menampilkan beberapa gerak akrobatik. Tak hanya acting para pemain yang epic, pencahayaan panggung pertunjukan itu juga patut diacungi jempol. Tak heran, para penonton nampak sangat antusias menyaksikan, sembari mengabadikan pertunjukan dengan kamera ponsel mereka. Salah satunya Laras (25) yang kala itu nampak sumringah, ketika menyaksikan pertunjukan. 

“Senang sekali, saya sangat terhibur.” ucapnya. 

Laras menyambut baik adanya pertunjukan-pertunjukan seni yang kembali hadir di Kota Pahlawan. Ia berharap setiap seni dan budaya tradisional dapat terus lestari, khususnya di Surabaya.

“Alhamdulilah masih ada pertunjukan kesenian. Hal seperti ini selalu berhasil membawa suasana baik. Semoga dengan adanya pertunjukan-pertunjukan seni ini bisa melestarikan budaya Jawa. ” terang Laras kepada aspirasivirtual.

Sementara itu, pertunjukan seni ludruk bertajuk “Dendam yang Terbalaskan” tersebut dibawakan oleh 25 pemain yang semuanya berusia muda. Ricky Veka, sang sutradara menjelaskan bahwa lakon ini bercerita tentang dendam dari seorang warga yang gagal dalam pemilihan Kepala Desa. Cerita ini membawa pesan bahwa keburukan apapun akan selalu kalah dengan kebaikan. 

“Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya adalah, Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti. Yang berarti bahwa, sebesar-besarnya keburukan, atau apapun itu bentuk kejelekan, pasti akan kalah dengan kebaikan. ” jelas Ricky. 

Pertunjukan yang berhasil mengocok perut setiap penonton tersebut, ternyata telah melalui proses persiapan yang cukup matang. 

“Iya untuk persiapan, kami sudah berlatih 2-3 kali sebelum tampil. Persiapan hari ini juga sudah sejak sore hari. ” tambahnya. 

Menariknya, para pemain Ludruk Taman Hira merupakan anak-anak dari para seniman Taman Hiburan Rakyat yang tersohor di Surabaya pada zamannya. Para remaja ini mengaku telah diperkenalkan akan dunia seni sejak usia belia. 

 “Awal mula kami terjun itu, karena sudah terbiasa sebenarnya. Sejak masih kecil sudah diperkenalkan, dan hingga saat ini akhirnya suka dan cinta pada seni. Akhirnya masih berlanjut melestarikan hingga kini.” Tutup Ricky. 

    X