Pasar tradisional bukan sekadar tempat. Ia memiliki makna mendalam dan krusial bagi kota modern dengan perannya sebagai elemen penyeimbang di tengah pesatnya pembangunan fisik dan digital.
Meski pasar modern menawarkan efisiensi, pasar tradisional tetap menjadi fondasi penting. Tak hanya menjadi tulang punggung ekonomi lokal yang menyediakan akses bagi pedagang kecil menengah dan tempat transaksi jual-beli terjangkau, pasar tradisional seringkali menjadi pusat interaksi sosial yang mencerminkan budaya setempat. Ia menjaga keunikan kota agar tidak seragam di tengah globalisasi.
Sejalan dengan filosofi itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat revitalisasi pasar tradisional guna meningkatkan kualitas sarana perdagangan sekaligus memperkuat perlindungan konsumen.
Pemkot Surabaya menargetkan hingga pertengahan Mei 2026, sedikitnya lima pasar rampung dibenahi. Yakni Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Pasar Babakan Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Simo Gunung.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, Iman Krestian, menegaskan bahwa pembenahan difokuskan pada penguatan fungsi dasar pasar agar kembali layak dan nyaman digunakan.
“Penataan ini diarahkan untuk memastikan pasar kembali fungsional. Fokusnya pada infrastruktur dasar seperti drainase, perbaikan dan perkerasan lantai, serta penataan area pedagang. Selain itu, juga dilakukan perbaikan minor seperti penanganan kebocoran,” ujar Iman kepada awak media, Mei 2026.
Salah satu contoh penanganan dilakukan di Pasar Tembok Dukuh. Sebelum direvitalisasi, pasar ini kerap tergenang saat hujan akibat saluran drainase yang sempit dan sudah menua, ditambah posisi lantai yang lebih rendah dari badan jalan. Kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli tidak nyaman dan mendorong munculnya pedagang yang berjualan hingga ke badan jalan.
“Atas arahan Bapak Wali Kota Eri, penataan dilakukan agar pedagang kembali masuk ke dalam pasar. Kita benahi layanan dasarnya supaya pasar lebih nyaman dan aktivitas ekonomi kembali hidup,” jelasnya.
Penanganan di masing-masing pasar dilakukan dengan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan. Di Pasar Simo Gunung, dilakukan perluasan area karena masih ada pedagang yang belum tertampung. Sementara di Pasar Kembang, revitalisasi menjadi kelanjutan pekerjaan sebelumnya dengan tambahan perbaikan lantai dan pembangunan atap.
Adapun Pasar Babakan Baru dan Wonokromo difokuskan pada penataan sistem pemotongan unggas yang lebih higienis dan sesuai regulasi. Di Babakan Baru, disiapkan fasilitas pemotongan skala kecil sekitar 5.000 ekor per hari secara semi manual yang dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Sedangkan di Wonokromo, konsepnya lebih modern dengan dukungan fasilitas seperti conveyor belt, namun tetap melibatkan pedagang eksisting,” imbuhnya.

Ada 10 Pasar Tradisional Jadi Target Revitaliasi
Berdasarkan data Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, total terdapat 10 pasar yang menjadi target revitalisasi Pemkot Surabaya sepanjang 2026.
Dari jumlah tersebut, lima pasar ditargetkan rampung pada pertengahan Mei 2026 atau bertepatan dengan momen Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 pada 31 Mei. Yakni Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Pasar Babakan Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Simo Gunung.
Sementara lima pasar lainnya akan dibenahi secara bertahap, meliputi Pasar Pakis, Dukuh Kupang, Pecindilan, Gresik PPI, dan Krembangan. Seluruh penanganan difokuskan pada penguatan infrastruktur dasar melalui kolaborasi lintas perangkat daerah (PD), termasuk pembenahan drainase kawasan.Iman menambahkan, revitalisasi ini merupakan bagian dari dukungan Pemkot Surabaya terhadap pengelolaan aset PD Pasar. “Perbaikan ini dilakukan atas permohonan Bagian Perekonomian dan nantinya menjadi bagian dari penguatan aset serta peningkatan layanan pasar,” imbuhnya.



Leave feedback about this