Ngadem di Tahura Jeruk, Hidden Gem di Surabaya Barat
Blusukan

Ngadem di Tahura Jeruk, Hidden Gem di Surabaya Barat

Surabaya punya kawasan hutan kota yang layak masuk daftar ‘wajib dikunjungi’ di akhir pekan. Tidak hanya membantu memperbaiki iklim mikro dan menjadi paru-paru kota, urban forest tersebut juga menjadi hidden gem alias permata tersembunyi yang nyaman untuk rekreasi dan edukasi.

Hutan kota tersebut berada di kawasan Surabaya Barat. Namanya, Taman Hutan Raya (Tahura) Jeruk. Ini bukanlah hutan kota yang berisi aneka tanaman jeruk. Nama jeruk lebih merujuk pada lokasinya yang berbeda di Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya.

Kawasan hijau di tepian Surabaya yang berbatasan dengan wilayah Driyorejo, Gresik ini juga dikenal sebagai “Bukit Teletubies”. Sebab, hutan kota ini memiliki spot kontur tanah berundak yang mirip seperti bukit Teletubies. Bagi yang belum tahu, Teletubbies merupakan film anak-anak yang populer di era 90-an.

Ada apa saja di Taman Hutan Raya Jeruk di Lakarsantri?

Tahura Jeruk yang sejuk, cocok bagi siapa saja yang ingin ngadem. Lokasinya yang cukup tersembunyi, menjadikannya tempat asyik untuk healing maupun me-recharge energi usai lelah dengan rutinitas pekerjaan.

Datang ke sana seperti jeda dari hiruk pikuk pusat kota Surabaya. Kita akan disuguhi suasana rindang dan asri. Terdapat hamparan persawahan hijau dan banyak pepohonan besar yang rindang. Seolah menciptakan oase sejuk.

Di “Bukit Teletubbies”, menyediakan berbagai spot foto menarik untuk pengunjung. Ada pula koleksi berbagai jenis tanaman buah. Serta tersedia fasilitas umum seperti gazebo untuk bersantai, area olahraga (sport area), sangkar burung berukuran besar, dan kolam ikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi mengatakan, Tahura Jeruk memiliki beberapa spot unggulan.

“Selain spot foto seperti area bukit, jembatan, dan danau, juga ada area edukasi sawah, kebun buah, dan playground,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Untuk masuk ke kawasan yang bikin happy ini, pengunjung hanya dikenakan biaya retribusi Rp 5.000/orang. Sementara anak-anak yang tinggi badannya di bawah 100 cm, tidak dipungut biaya alias gratis.

Selain hijau dan asri, kawasan hutan kota  ini juga bersih dan terawat. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan banyak tempat sampah di segala penjuru taman. Ini selaras dengan semangat Pemkot Surabaya untuk terus mendorong pengembangan sektor wisata.

“Pengembangan di bawah Dinas Ketahan Panganan & Pertanian Kota Surabaya berkolaborasi dengan Disbudporapar dengan menjadikan Tahura Jeruk sebagai rute Famtrip. Upaya promosi juga dilakukan melalui Media Sosial Resmi Pemkot Surabaya,” terang Herry Purwadi.

Bagaimana menuju ke sana?

Jika menggunakan transportasi umum, pengunjung bisa naik armada Wirawiri Suroboyo rute TIJ – Lakarsantri, kemudian turun di Halte Banjar Melati. Dari halte pengunjung bisa berjalan kurang lebih 270 meter saja ke arah timur. Saat memasuki kawasan ini, pengunjung akan disambut dengan pepohonan rindang di seluruh penjuru taman. Bahkan terdapat juga danau buatan di dekat pintu masuk yang menambah suasana asri.

Selama di sana, pengunjung bisa mengobrol santai dan menghabiskan waktu dengan keluarga dan orang-orang terdekat dengan nuansa asri menenangkan. Selama berkeliling menikmati keasrian Tahura Jeruk, bila pengunjung merasa lapar ataupun haus, bisa mampir ke spot kuliner yang menjual aneka makanan dan minuman.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyampaikan, pengembangan wisata harus memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar. Karena itu, Pemkot Surabaya mendorong kehadiran UMKM agar bisa berjualan di kawasan wisata dan ikut merasakan dampak ekonomi dari kunjungan wisatawan.

“Saya tidak ingin ketika wisata dibuka tetapi tidak memberikan dampak bagi masyarakat. Harapannya ada UMKM yang berjualan di sana sehingga ekonomi warga juga ikut bergerak,” ujarnya.

Meski demikian, Wali Kota Eri menekankan bahwa produk UMKM yang hadir di kawasan wisata harus melalui proses kurasi. Ini penting untuk memastikan kualitas produk dan cita rasa makanan, tetap terjaga dan mampu memenuhi ekspektasi pengunjung.

“Kalau makanan harus dijaga kualitasnya, rasanya harus konsisten. Jangan sampai pengunjung datang tapi kecewa,” jelasnya.

Dan memang, destinasi wisata tidak cukup hanya dibuka, tetapi harus terus menghadirkan aktivitas baru agar tetap menarik dan ramai dikunjungi. Dan terpenting, tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga memberi dampak langsung bagi perekonomian warga. Potret itu bisa kita lihat di Tahura Jeruk.

    Leave feedback about this

    • Quality
    • Price
    • Service

    PROS

    +
    Add Field

    CONS

    +
    Add Field
    Choose Image
    Choose Video