DPRD Surabaya terus mendorong pemkot untuk memaksimalkan aset guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Termasuk memaksimalkan infrastruktur kawasan wisata di Wonorejo yang diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menagih janji pemkot terkait pembangunan infrastruktur yang sering dikeluhkan oleh pengunjung wisata. Yakni minimnya akses transportasi umum menuju kawasan wisata mangrove.
Ekowisata mangrove ini tersebar di kawasan Wonorejo, Gunung Anyar hingga Mendokan Sawah. Seringkali pengunjung harus mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi online untuk menjangkau kawasan wisata seluas 34 hektar ini.

“Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil buka google maps khawatir kesasar,” ungkap salah satu pengunjung perempuan bernama Maria yang mengendarai sepeda motor mati bersama keluarganya.
Tidak berhenti disitu, kritik tajam juga tertuju pada konflik laten antara kepentingan konservasi dan ekonomi. Data dari Universitas Airlangga mengungkapkan bahwa sekitar 40% atau 400 hektar hutan bakau di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) masih dalam kondisi rusak. Garis pantai bakau yang dahulu mencapai 29,8 km kini hanya tersisa 8,7 km dengan ketebalan tidak lebih dari 50 meter.

Bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1990an, ketebalan hutan bakau kala itu bisa lebih dari 50 meter. Salah satu penyebab kerusakan mangrove adalah konservasi lahan mangrove menjadi tambak akuakultur oleh masyarakat yang telah memiliki lahan sejak lama.
Konflik kepemilikan lahan antara pemerintah daerah dan masyarakat ini belum menemukan titik temu yang adil. Pemerintah menuntut konservasi, namun enggan memberikan kompensasi yang layak atas hilangnya mata pencaharian warga.
Bahkan di tengah gencarnya promosi wisata mangrove, tingkat keberhasilan penanaman bakau masih rendah. Data BRIN dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya mencatat 5-10% tanaman bakau yang ditanam justru mati akibat waktu tanam yang tidak tepat, jenis tanaman yang tidak sesuai lokasi, dan yang paling memprihatinkan sampah plastik yang menutup akar sehingga menghambat pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan konservasi masih jauh dari profesional.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menilai sektor pariwisata Kota Surabaya, termasuk wisata mangrove mengalami stagnan. Artinya kawasan wisata ini berjalan di tempat tanpa terobosan signifikan.

“Dana dari (pemerintah) pusat berkurang, APBD tertekan. Kalau pariwisata tetap dikelola tanpa visi dan keberanian berinovasi, jangan heran kalau PAD stagnan,” tegas politisi Gerindra ini, Senin (22/12/2025).
Meskipun diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia, lanjut Yona, kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih minim. Hingga pertengahan 2024, rata-rata pengunjung Kebun Raya Mangrove hanya mencapai enam ribu orang per bulan.
“Angka ini jauh dari potensi sebenarnya mengingat Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai jutaan jiwa,” terang Yona.
Yona menambahkan, para wisatawan umumnya menginginkan pengalaman yang instagramable dan serba canggih. Sementara fasilitas yang ditawarkan wisata mangrove Surabaya terkesan ketinggalan zaman.
“Meski terdapat spot foto dengan frame bambu dan menara pandang setinggi 12 meter, namun konsep wisata edukasi yang diusung masih terasa kaku dan kurang interaktif,” tutur pria yang akrab disapa Cak Yebe.
Melihat kondisi jogging track yang terbuat dari bambu dan kayu memang menawarkan pengalaman dekat dengan alam, namun perawatannya kerap terabaikan. Wisata perahu yang menjadi daya tarik utama pun masih terbatas dengan kapasitas dan jadwal yang tidak fleksibel.
Sentra wisata kuliner yang dijanjikan dalam strategi pengembangan 2025 hingga kini belum terwujud secara maksimal. Pengunjung hanya menemukan lapak dan meja kursi yang kosong di sentra kuliner kebun raya mangrove, tanpa konsep yang jelas.
Yang lebih memprihatinkan, lanjut Cak Yebe, promosi wisata mangrove hanya mengandalkan media sosial Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya yang jangkauannya terbatas. Tidak ada kampanye masif atau kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Padahal konsep ekowisata mangrove sebenarnya memiliki daya tarik global jika dikemas dengan baik. Bayangkan, jika ada keterlibatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Association of The Indonesian Tours and Travels Agencies (ASITA) dalam pengembangannya. Wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sebelumnya hanya sekedar menginap di hotel jadi tertarik karena penawaran paket wisata di Surabaya, menarik kan? PAD meningkat, Surabaya tidak perlu lagi berhutang,” usul Cak Yebe.

Cak Yebe yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Gerindra Surabaya ini memberikan solusi, diantaranya:
- Akses Transportasi
Segera buka jalur angkutan umum khusus atau integrasikan dengan sistem transportasi publik Surabaya. Kolaborasi dengan penyedia transportasi online untuk memberikan tarif khusus bagi pengunjung wisata mangrove juga perlu dipertimbangkan.
- Profesionalisme Pengelolaan
Tunjuk pengelola profesional yang berpengalaman di bidang wisata. Jangan lagi mengandalkan pola pengelolaan birokratis yang kaku. Berikan otonomi pengelolaan dengan target kinerja yang jelas dan terukur.
- Resolusi Konflik Lahan
Segera selesaikan konflik kepemilikan lahan dengan memberikan kompensasi yang adil bagi masyarakat atau libatkan mereka dalam pengelolaan wisata. Model community-based tourism bisa menjadi solusi win-win.
- Upgrade Fasilitas
Wujudkan sentra wisata kuliner dengan konsep modern namun tetap ramah lingkungan. Tambahkan fasilitas interaktif seperti pusat edukasi mangrove dengan teknologi augmented reality (penggabungan elemen digital: gambar, video, model 3D dengan dunia nyata secara real-time), watersport activities, dan paket wisata terintegrasi dengan destinasi lain di Surabaya Timur.
- Kampanye Masif
Lakukan kampanye pariwisata yang agresif dengan melibatkan influencer, travel blogger, dan media online. Manfaatkan momentum event-event besar di Surabaya untuk mempromosikan wisata mangrove sebagai paket lengkap wisata alam, edukasi, dan kuliner.
“Pemkot harus berani menjawab tantangan untuk mengoptimalisasi infrastruktur kawasan wisata. Pemkot harus lebih profesional mengeksplor wahana wisata menjadi salah satu sumber PAD. Kawasan wisata di Surabaya tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga menjadi kebanggaan warganya,” pungkas Cak Yebe. (Nor)



Leave feedback about this