Digitalisasi parkir mulai diberlakukan di Kota Pahlawan. Mulai pertengahan April 2026 tidak ada lagi parkir bayar pakai uang.
Selain wajib menggunakan kartu e-money, warga Surabaya juga bisa membayar parkir dengan QRIS melalui smartphone.
Namun bagi mereka yang tidak terakses smartphone dan mempunyai e-money, Dishub Kota Surabaya menyediakan voucher Parkir Suroboyo. Yang penting semua pengguna parkir dari latar belakang apapun bisa dilayani parkir nontunai.
Pemberlakuan layanan parkir nontunai dengan voucher tersebut direspons positif Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan. Namun dia mendesak agar harga voucher sesuai nilai parkir.
Jika satu lembar untuk voucher parkir motor Rp 2.000 maka harganya harus di nilai ini. Tidak boleh lebih.

“Terlepas dengan harga, kami mendukung voucher parkir ini sebagian bentuk layanan publik yang inklusif. Semua pihak harus bisa mengakses,” kata Eri.
Bisa jadi tidak semua orang punya smartphone dengan fasilitas QRIS. Terutama orang-orang lansia. Mereka belum tentu juga punya e-money. Voucher adalah nilai pembayaran yang menjangkau mereka yang tidak tercover digitaliasi.
Semangat penerapan parkir nontunai tetap tercapai. Celah kebocoran bisa ditutup DNA akuntabilitas terjaga. Sebab voucher itu asli dan resmi. Sementara juga tidak merepotkan kalangan tertentu.
Eri juga meyakini digitalisasi parkir tidak akan berpolemik. Sebab saat ini sebanyak 600 jukir sudah melakukan aktivitasi nomor rekening.
Termasuk skema bagi hasil 60-40 persen antara pemkot dan jukir sudah menemukan titik terang. (Nor)



Leave feedback about this