Hearing terkait rencana perluasan Boezem Simomulyo Baru oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berlangsung alot. Bahkan anggota dewan dan kepala dinas adu argumen hingga saling gebrak meja.
Ketegangan muncul ketika anggota dewan dari Fraksi PSI, Josiah Michael, terlibat adu argumen dengan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah.
Hearing atau Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpin Ketua Komisi C Eri Irawan awalnya berjalan kondusif, Kamis (5/3/2026). Sejumlah anggota dewan termasuk Herlina Harsono Nyoto dan Achmad Nurdjayanto menyampaikan pandangan mereka.
Namun suasana berubah ketika Josiah menyampaikan catatan kritis terkait dampak rencana perluasan terhadap permukiman warga.
Ia mempertanyakan perbedaan data luasan lahan hingga lebih dari 10 ribu meter persegi antara dokumen dinas dan data dewan. Josiah juga menyampaikan keraguannya terkait keabsahan dokumen dinas.
Menurut Josiah, pencabutan izin pemanfaatan tanah tidak boleh hanya berdasarkan aspek administrasi atau kebutuhan proyek, melainkan juga harus mempertimbangkan dampak sosial.
Kawasan yang direncanakan terdampak bukan hanya permukiman, tetapi juga tempat usaha dan rumah ibadah yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kalau izin dicabut, apakah sudah dihitung dampak sosialnya? Di sana bukan hanya rumah tinggal, ada usaha, ada pekerja yang menggantungkan hidupnya. Bagaimana nasib mereka?” ujarnya dalam rapat.
Ia juga menyarankan pemkot memanfaatkan lahan Fasilitas Sosial dan Umum (PSU) pengembang yang belum diserahkan terlebih dahulu.
Menanggapi hal tersebut, Hidayat Syah menegaskan bahwa lokasi telah melalui kajian teknis dan dianggap paling tepat untuk mengendalikan aliran air serta mencegah potensi banjir di wilayah yang lebih luas.
Menurutnya, pemerintah juga harus melihat dampak yang lebih luas, termasuk potensi banjir yang bisa terjadi jika sistem pengendalian air tidak diperkuat.
“Kita harus befikir komprehensif jangan hanya ngomong tok, harus lihat kondisi di lapangan,” ujar Hidayat.
Jawaban ini memicu reaksi keras dari Josiah, yang merasa pandangannya dianggap remeh. Ia menggebrak meja rapat dan menyatakan bahwa dirinya sedang menjalankan fungsi pengawasan dewan terhadap kebijakan pemerintah, bahkan menyampaikan bahwa jika tidak bersedia diawasi, pihak terkait bisa mundur dari jabatan ASN.
“Saya ini sedang menjalankan hak dewan untuk melakukan pengawasan. Kalau tidak bersedia diawasi, silakan mundur dari ASN,” tegasnya dengan nada tinggi.
Situasi semakin memanas ketika Hidayat juga membalas dengan menggebrak meja sidang dan saling berdiri berhadapan menantang Josiah. Eri Irawan segera meredakan ketegangan dengan meminta kedua pihak menahan diri.
Setelah suasana kembali tenang, rapat dilanjutkan dengan pembahasan teknis proyek dan aspirasi warga yang meminta tinjauan ulang rencana perluasan. (Nor)



Leave feedback about this