Meski telah diberi perpanjangan waktu, renovasi Puskesmas Manukan Kulon tetap mangkrak. Kontraktor diputus. Ternyata selama pembangunan, jumlah pasien rawat inap menurun drastis.
Kenyataan ini terungkap saat rapat dengar pendapat di Komisi D DPRD Surabaya. Anggota Komisi D Imam Syafi’i menanyakan kebenaran tersebut.
“Pasien rawat inap saja berkurang karena adanya proses pembangunan ini. Kita ingin tahu berapa datanya, dan potensi kerugiannya,” kata Imam saat hearing, Rabu (7/1/2026).

Kepala Puskesmas Manukan Kulon, Dokter Lolita Riamawati menjelaskan bahwa benar ada penurunan pendapatan. Hal ini disebabkan adanya ruang rawat inap yang digunakan untuk pasien rawat jalan.
“Proses renovasi dimulai Juli 2025. Nah di akhir Juli 2025 itu pendapatan kami untuk rawat inap, klaim non kapitasi kami sekitar Rp 45 juta. Dan karena adanya beberapa ruangan rawat inap yang kami gunakan untuk rawat jalan, memang agak sedikit turun menjadi Rp 35 juta per bulan,” terang dokter Lolita.

Itu artinya, tambah Imam, per bulan ada kerugian Rp 10 juta. Kondisi ini berjalan hingga Desember.
“Kerugian Rp 10 juta, dikali 6 bulan. Berarti Rp 60 juta ya, angka yang besar untuk kerugian puskesmas,” tegas Imam.
Kejadian ini harusnya menjadi pelajaran. Kini pemkot akan membuka lelang untuk mencari kontraktor yang tepat demi menyelesaikan proyek renovasi dan penambahan bangunan di Puskesmas Manukan Kulon
Anggota Komisi D Johari Mustawan menekankan supaya pemkot melalui pihak terkait menguatkan SOP bagi kontraktor yang akan mengikuti lelang pembangunan.
“Yang murah belum tentu tepat. Jadi perlu memperhatikan aspek volumenya, aspek ketepatan dan sebagainya. Pintu aja dibuka ke dalam ngga boleh, harus ke luar. Pintu kamar mandi ngga boleh dibuka ke dalam. Oleh karena itu saya ingin memberi masukan agar ada evaluasi SOP penunjukan vendor dalam proyek apapun khususnya dalam pelayanan publik, seperti puskesmas dan sekolah,” terang Johari. (Nor)



Leave feedback about this