Dinamika Dewan

Serapan Anggaran Gen-Z Rp 5 Juta di Surabaya Belum Optimal

Skema pendanaan pemberdayaan generasi muda di Kota Pahlawan telah dibuka sejak Januari 2026. Namun, serapan anggaran Pemkot Surabaya senilai Rp 47 miliar ini masih belum optimal.

Dua hal yang diduga menjadi kendala yakni petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (Juklak-juknisnya) serta pola pikir (mindsite) gen-Z yang membuat penggunaan anggaran kerap melenceng dari tujuan awal dan tak berjalan optimal.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan, rendahnya realisasi bukan karena anggaran tidak tersedia, melainkan pola pikir pengajuan yang belum berubah dan belum sepenuhnya terarah.

“Masih mindset lama. Proposalnya untuk kegiatan, bukan untuk usaha. Padahal ini tidak boleh untuk panitia,” tegasnya usai mengikuti rapat paripurna penyampaian Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Wali Kota Surabaya tahun 2025 di Gedung DPRD Surabaya, Selasa (1/4/2026).

Ia menjelaskan, mekanisme pengajuan memang sudah berjalan melalui sistem proposal yang diatur di level Sekretaris Daerah. Namun, dalam praktiknya, banyak pengajuan yang belum mencerminkan orientasi ekonomi produktif.

“Juklaknya sudah ada di Sekda. Tapi proposal yang masuk masih dipakai untuk kegiatan,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tingkat implementasi, pemahaman teknis belum sepenuhnya seragam. Akibatnya, anggaran yang seharusnya mendorong usaha justru berpotensi terserap untuk kegiatan non-produktif.

“Sudah ada yang mengajukan, tapi dipakai untuk honor panitia. Itu yang kita koreksi,” imbuhnya.

Program ini sejatinya dirancang untuk mendorong anak muda agar mampu membangun usaha mandiri dan menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal. Namun hingga kini, Eri mengakui serapan anggaran belum berjalan optimal dan belum menunjukkan pergerakan signifikan.

“Belum. Belum ada yang berjalan maksimal, karena proposalnya masih mindset untuk panitia,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Surabaya menggandeng sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) sebagai mitra penyerapan hasil usaha Gen-Z. Skema ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasar sekaligus mengarahkan penggunaan anggaran agar tepat sasaran.

Eri mencontohkan, bantuan dapat digunakan untuk membeli alat produksi seperti mesin cuci, yang kemudian dimanfaatkan sebagai usaha laundry dengan pelanggan dari hotel.

“Beli mesin cuci, nanti laundry-nya diambil hotel. Jadi ada pergerakan ekonomi, tidak menganggur,” jelasnya. (Nor)

Exit mobile version