Perempuan pelajar SMP diduga mengalami pelecehan saat naik Suroboyo bus. CCTV di kendaraan tersebut tidak merekam aksi tersebut. DPRD Surabaya mendorong pemkot untuk mendampingi korban demi membuat laporan kepolisian.
Kejadian ini viral di media sosial. Awalnya pelajar tersebut bersama ibunya naik Suroboyo bus pada Rabu (7/1/2026) sore. Saat turun di Halte Urip Sumoharjo korban menangis ke ibunya, ibunya sontak teriak. Terduga pelaku yang turun di halte yang sama langsung lari menuju gang buntu. Warga sempat berkerumun.
Terduga pelaku telah diamankan di Polsek Genteng. Namun kepolisian belum bisa memproses peristiwa ini sebab korban belum membuat laporan.
Ketua Komisi C DPRD Surabaya mendesak pemkot supaya tanggap mendampingi korban untuk segera membuat laporan.

“Pemkot perlu mendampingi korban untuk berani melapor. Kita semua harus berada di sisi korban,” kata Eri Irawan, Senin (12/1/2026).
Eri juga meminta Dishub Surabaya untuk mengusut tuntas masalah ini. Terlebih dengan minimnya perangkat atau instrumen di dalam Suroboyo Bus sebagai barang bukti.
“Laporkan ke kepolisian. Pasti kepolisian memiliki metode pengungkapan kejahatan secara ilmiah untuk mengungkap dugaan pelecehan seksual ini, di tengah minimnya perangkat/instrumen di dalam Suroboyo Bus untuk membuktikan,” kata Eri.
Peristiwa ini sebaiknya menjadi pelajaran dan tidak terulang di masa mendatang. Sistem keamanan dan kenyamanan Suroboyo Bus harus dibenahi.
“Ini harusnya menjadi momentum pembenahan sistem keamanan transportasi publik di Surabaya. CCTV, pencahayaan, petugas terlatih, pelaporan mudah, teknologi pemindai wajah, dan kampanye kesadaran publik harus dijalankan secara paralel,” terang politisi PDIP ini. (Nor)