Perspektif

Ketua Komisi A Support Atlet Ju-jitsu di Piala KONI

Kejuaraan Ju-jitsu Piala KONI Surabaya yang diikuti 560 atlet dari berbagai perguruan meraup dukungan politik dan moral dari DPRD Surabaya.

Dewan Penasihat PBJI Kota Surabaya yang juga Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko menilai kejuaraan ini sebagai momentum persatuan lintas perguruan menjelang Porprov 2027.

“Ini bukan event satu perguruan, tapi multi perguruan. Momentum yang sangat bagus agar semua perguruan ju-jitsu di Surabaya bersatu. Karena ke depan kita punya gawe besar, Porprov Jawa Timur 2027,” kata Yona yang akrab disapa Cak Yebe, Sabtu (20/12/2025).

Yona menambahkan, komitmen DPRD dan Pemerintah Kota Surabaya untuk terus mendorong pembinaan ju-jitsu sebagai salah satu cabang olahraga andalan.

“Kami mendorong sepenuhnya event-event seperti ini, termasuk Dispora Cup Januari nanti. Ini pemanasan menuju 2027. Goal-nya Surabaya harus bisa,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Cak Yebe memberikan dukungan dana Rp10 juta untuk para pelatih dan Rp10 juta untuk atlet juara sebagai bentuk motivasi.

“Semoga ini menjadi motivasi, bukan karena nilainya. Menang kalah itu biasa. Musuh paling berat adalah diri sendiri. Kalau bisa mengalahkan diri sendiri, insya Allah kalian juara sejati,” pungkas Cak Yebe.

Ketua PBJI Provinsi Jawa Timur, Eko Wahyu Surcahyo, menyebut Piala KONI Surabaya sebagai terobosan baru yang lahir dari respons progresif KONI Kota Surabaya dalam mengisi agenda olahraga akhir tahun secara positif.

“Surabaya membuat gebrakan baru. Piala KONI ini merupakan respons dan gerakan revolusioner dari Ketua Umum KONI Kota Surabaya, agar di akhir tahun ada kegiatan yang arahnya positif. Kebetulan ini sejalan dengan agenda Kota Surabaya untuk mendapatkan bibit atlet dari junior sampai senior,” ujar Eko.

PBJI Jawa Timur, lanjut Eko, memberikan dukungan penuh dan rekomendasi agar kejuaraan ini bisa berjalan lancar dan berkelanjutan.

“Kami dari Jawa Timur sangat mengapresiasi dan mendukung penuh. Ini langkah penting untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi ke depan,” tegasnya.

Eko juga menyinggung evaluasi prestasi Surabaya yang dinilai belum optimal dalam beberapa event sebelumnya, meski memiliki potensi atlet yang besar.

“Surabaya ini gudangnya atlet. Tapi kenapa kemarin prestasinya kurang? Ini yang perlu dievaluasi, apakah sistem kepengurusannya, rekrutmennya, atau kurangnya ruang bertanding. Dengan event seperti ini, saya yakin Surabaya akan bangkit,” katanya.(Nor)

Exit mobile version